Oleh S. Bekti Istiyanto, S.Sos

Aqidah secara bahasa diambil dari kata aqdun-’Aqoid yang berarti akad atau ikatan, menguatkan; mengokohkan; meneguhkan.

Secara istilah aqidah dimaknai sebagai :

1. sesuatu yang wajib diimani diyakini tanpa keraguan dan menjadi panutan dan diperjuangkan pemeluknya

2. pemikiran yang mendasar dan menyeluruh yang ada pada seseorang tentang alam, manusia dan kehidupannya dan menjadi landasan bagi setiap perilakunya

Permasalahan

Dewasa ini umat Islam mengalami kemunduran yang sangat signifikan. banyak diantara mereka mengaku Islam tapi tidak kenal dengan Islam bahkan tidak mau terikat dengan Islam itu sendiri. Mereka menjadikan Islam hanya sebagai sebuah legalitas formal orang beragama, tanpa mau tahu ada tuntutan atau konsekuensi logis atas pemilihan agamanya tersebut yaitu beribadah sesuai tuntunan agama yang diyakininya tersebut. Hal ini jelas menjadi ironis sekali, tapi secara umum umat Islam mengalami hal ini. Persoalan ini mendasar dan menjadikan renungan sampai sejauh mana ikatan aqidah seorang pemeluk agam Islam dapat diwujudkan dalam kehidupan atau sudah sedemikian lalaikah umat terhadap aqidah Islam ini.

Umat bebas menentukan pilihan termasuk paham/isme sebagai sarana mencapai kebahagiaan. Kita bisa membagi menjadi tiga kharakteristik besar isme besar dunia bersumber dari sini :

1. Keyakinan kapitalisme dan berkembang menjadi liberal, materialisme, hedonisme, dll.

2. Keyakinan Sosialisme berkembang mejadi komunisme, anti agama, dll.

3. Keyakinan Islam sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin

Ketiga isme besar ini sangat berpengaruh dan menentukan  arah bagi dunia ini berkembang. Hanya saja dalam Islam ada sumber keyakinan yang tidak mungkin salah dan itu ada dalam kitab yang diturunkan Allah SWT. kepada umatnya seperti 5:3, 19:85. Terpenting lagi dalam setiap rasul yang diturunkan tidak ada penyimpangan atas aqidah ini artinya selalu terjaga dari dulu sampai sekarang seperti dalam 21:25, 16:35, 4:136 dan tidak ada perbedaan atas para Utusan Allah dalam menyampaikan aqidah keyakinan ini dalam 42:13.

Manfaat dari belajar aqidah adalah :

v  Akan mendapatkan buah mengenal Allah SWT.

v  Aqidah menjadi sesuatu yang sangat diperntingkan dalam kehidupan

v  Sebagai landasan ibadah

v  Sebagai landasan membina masyarakat.

Perlu dipahami bahwa dakwah Rasulullah selama di Mekkah adalah ditujukan khusus masalah akidah dan ini dilakukan selama 13 tahun masa kenabian. Maka hasil yang dicapai oleh para sahabat Rasul bisa menunjukkan kualitas yang sempurna. Pada saat itu belum diturunkan aturan hukum-hukum lain yang mengatur kehidupan pribadi dan bermasyarakat, seperti muamalah, puasa dll. Bahkan sholat pun diturunkan Allah kepada Rasul menjelang hijrah ke Madinah. Disini disadari bahwa peranan aqidah adalah sangat penting dalam pembinaan manusia dan masyarakat.

Benar bahwa Rasullullah diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Tapi akhlak yang sempurna ini tidak akan dapat terwujud tanpa disandarkan pada landasan keimanan karena aqidah yang mantap. Bila aqidah sudah dapat diwujudkan dalam amal maka dengan otomatis akhlak manusia pun akan dapat mengikutinya.

Salah satu yang harus diketahui dalam belajar akidah adalah memahami kembali makna syahadah. Mungkin kita sudah mengetahuinya walaupun banyak yang baru sebatas permukaan saja. Maksudnya, berbicara tentang makna syahadah dan urgensinya dalam kehidupan walaupun syahadah ini sudah sering kali ucapkan, bahkan dalam sholat-sholat kita. Tapi apa hakikat dari makna syahadah ini sering kita lalaikan.

Syahadah sendiri merupakan bagian dari rukun iman, bahkan merupakan rukun iman yang pertama. Artinya, mendapatkan kedudukan utama sebagai awal keislaman dan keimanan kita. Dengan mengucapkannya, seseorang berhak menjadi seorang muslim dan mempunyai kewajiban-kewajiban yang sama dengan muslim lainnya. Syahadah ini, merupakan pintu gerbang antara kegelapan jahilliyah menuju terang benderangnya cahaya Islam. Artinya, bila seseorang itu tidak Islam walaupun dia adalah seorang yang berpendidikan atau mempunyai kedudukan karena kekayaan dan kekuasaannya, tetap saja orang tersebut tergolong dalam kegelapan jahiliyah. Sementara bila seseorang telah berislam/bersyahadah walaupun dia seorang yang miskin tidak punya apa-apa, tidak berkuasa dan tidak berkedudukan tetap saja dia mempunyai nilai yang terhormat di sisi Allah karena telah tergolong manusia yang mengikuti nur Islam yang terang. Bahkan bila dia dalam kesabaran dan keistiqomahan bukan tidak mungkin akan mendapat naungan rahmat dari Allah. Dan ini akan memungkinkan orang tersebut masuk surga yang penuh kebahagiaan dan kedamaian. Karena berdasar hadist rasul barang siapa dalam hidupnya pernah mengucapkan syahadah maka dia akan dimasukkan dalam surga. Atau redaksi yang lain, pada saat kematiannya bisa mengucapkan syahadah pasti akan masuk surga. Hanya saja kalau menjelang mati merupakan hal yang sulit dilakukan bila di masa hidupnya tidak sering mengucapkannya. Dan saat hidup mengucapkan tapi tidak diamalkan apa bedanya dengan orang munafik, yaitu mengucapkan tapi tidak melaksanakannya.

Syahadah seperti sudah dimengerti mempunyai dua arti yaitu syahadah tauhid yang maknanya mengesakan Allah sebagai satu-satunya Tuhan dan tidak ada tuhan lain yang menyamai-Nya, dan syahadah Rasul yang mengimani Muhammad sebagai utusan Allah tapi perlu dipahami bahwa landasan iman ini mempunyai makna yang sangat mendalam berdasar hadist Rasul. Dan ini seringkali tidak dipahami oleh kebanyakan umat muslim, karena sudah menyederhanakan makna syahadah pada tempat yang tidak semestinya.

Minimal ada tiga makna yang harus dipahami dalam syahadah yaitu :

1. Tasdiiqul bil qolbi

Yaitu syahadah harus dibenarkan dalam hati. Bila unsur ini tidak dipunyai maka keraguan akan Islam akan muncul, padahal ini merupakan nilai terpenting akan keimanan seseorang. Ada kisah seorang sahabat bernama Amer bin Yassar yang dikisahkan memiliki keteguhan iman luar biasa sehingga harus disiksa oleh kaum kafir Quraisyi sehingga secara tidak sadar mengungkapkan kata-kata kekufuran karena kerasnya siksaan yang datang kepadanya. Akhirnya diketahui oleh Rasullullah dan diperbolehkan diucapkan selama hatinya tidak membenarkan. Ini membuktikan keimanan itu harus ada di dalam kalbu manusia, ayatnya ada dalam 49:14.

2. Iqrooru bil lisan

Yaitu syahadah harus diucapkan atau diumumkan melalui lisan/ucapan. Ada pembuktian secara nyata kepada orang lain keislaman kita dengan mengucapkan syahadah keislaman kita. Makanya bagi orang yang kembali masuk Islam, langkah pertama yang harus dilakukan  adalah dengan mengucapkan syahadah ini. Baru dia berhak menyandang gelar seorang muslim dan mempunyai kewajiban yang sama dengan muslim lainnya. Dengan pengucapan syahadah ini dapat membedakan seseorang muslim dengan non muslim.

download